Thorong La: Tantangan Terberat di Annapurna Circuit

Di setiap langkah gw seperti merasakan denyut nadi sampai ke ubun-ubun. Tapi kok sampai malem perasaannya gak ilang-ilang.

Malam itu gw ga bisa tidur nyenyak, dan dengan kondisi seperti ini gw pikir mungkin gw ga akan bisa tidur setiap malam sampai gw mencapai Thorong La. Padahal ada satu side-trek yang mau gw lakukan di sini, yaitu trek ke Tilicho Lake, tapi dengan situasi ini kayaknya harus gw urungkan niat kesana.

Masalahnya bukan cuma soal temperatur. Saat ini gw sudah berada di ketinggian 3800 m di atas permukaan laut, berjalan menanjak ke arah salah satu mountain pass tertinggi di dunia. Cuma orang-orang yang sudah terbiasa dengan ketinggian seperti ini yang bisa ngerasa normal-normal aja, sedangkan buat gw ini mungkin agak ekstrim sehingga tubuh belum mampu beradaptasi dengan sempurna.

Tingkat oksigen yang makin menipis di ketinggian dan tekanan atmosfer yang makin berkurang mulai menunjukkan efeknya terhadap tubuh gw. Rasanya kayak selalu kehabisan napas gitu. Diperparah lagi dengan perlengkapan gw yang terbilang ga sesuai, dan gw cuma mengenakan jaket kulit biasa, celana jeans, dan sepatu skate. Gw cuma berharap ini adalah altitude sickness yang gak parah-parah amat. Maju terus adalah jalan terbaik, yang mana setelah melewati Thorong La jalurnya akan terun menurun.

I wished I had a mule

Victory

Ya, gw tetap bertekad untuk maju terus. Hingga akhirnya sampai di Thorong La, yang terletak di ketinggian 5.416 meter di atas permukaan laut.

Gw merasakan rasa lega dan pencapaian yang amat luar biasa saat mencapai Thorong La, seakan berhasil melewati tantangan yang begitu besar.

Leave a Reply